D'Topeng Kingdom (Museum Angkut, Kota Batu)

Emil sudah tidur dan kami tidak berniat untuk menjelajah lebih detai lagi di museum angkut. Untuk foto-foto saja kami malas karena semua orang ingin berfoto jadi harus antri. Buat kami, berfoto ala intagram-ers tidak penting dan hanya menghabiskan waktu karena ga jago foto. Hehe. Lalu kami memutuskan untuk pergi ke museum satunya yang masih berada di area museum angkut, yaitu D’Topeng Kingdom karena kami penasaran katanya ini tentang warisan nusantara. Kalau tampilannya dibandingkan dengan museum angkut, D’Topeng Kingdom ini kebanting. Pintu masuknya saja nyempil di dalam pertokoan, desainnya tidak instagramable, di dalamnya ada atap yang bocor. Begitu sampai tadinya kami tidak berharap banyak, tapi ternyata kami salah.

Batik
Batik tiga negeri
Banyak kain batik dipajang di dinding dan di dalam lemari kaca. Hmm, oke, ini menunjukkan kalau batik itu adalah Indonesian heritage. Ya sudahlah ya, kan sering juga lihat batik. Saya pun berniat melengos sampai tiba-tiba ada mas-mas yang mengoceh, “batik ini dibuat pada jaman Belanda, batik biru untuk orang Belanda, merah untuk orang Cina, coklat untuk pribumi”. Wah ternyata mas ini adalah story teller yang bekerja untuk museum D’Topeng Kingdom. Berkat mas ini, kami jadi tahu bahwa pada jaman dulu batik tidak berwarna warni dan orang pribumi hanya boleh menggunakan batik berwarna coklat. Adapun sentra pembuatan batik yaitu di Solo dan Pekalongan, maka tidak heran kalau sampai sekarang kedua tempat tersebut terkenal dengan batiknya. Pada jaman dulu, kain itu harganya mahal tapi orang kita juga tidak mau pakai kain yang motifnya itu-itu saja. Dari situlah muncul batik pagi-sore, yaitu satu kain batik dengan dua motif coklat gelap dan coklat terang. Kalau pagi, warna yang gelap dililit menghadap depan, kalau sore warna yang terang dililit menghadap depan supaya disangka ganti kain. Hehe, kreatif ya.
Batik yang paling menarik buat saya adalah batik tiga negeri. Disebut demikian karena terdapat tiga warna dalam satu kain yang mewakili bangsa Belanda (biru), Cina (merah), dan Indonesia (coklat). Pembuatannya pun dilakukan di tiga kota, karena setiap kota hanya boleh membuat satu warna batik. Warna biru dibuat di Cirebon, warna merah dibuat di Lasem, dan warna coklat dibuat di Pekalongan. Motifnya juga cantik. Di penghujung koleksi batik, mas story teller ini berhenti dan kami melanjutkan perjalanan sendiri bersama dua pasangan yang ada di depan kami.

Patung
Patung Loro Blonyo (dan bayangan saya. hehe)
Saat kami melihat-lihat koleksi periuk, uang, dan patung, muncul story teller lain yang bernama Pak Supaat. “Pada jaman dahulu, jika orang menikah maka akan dibuatkan patung yang dipahat persis menyerupai pengantinnya, namanya Loro Blonyo. Loro artinya dua dan blonya artinya pengantin” dengan fasih Pak Supaat menjelaskan sepasang patung dalam baju pengantin jawa yang ada di hadapan kami. Patung ini ibaratnya seperti foto pernikahan kalau di jaman sekarang, yak an dulu belum ada kamera jadi pakai patung. Hehe. Biasanya loro blonyo ini disimpan di kamar sebagai sugesti agar pernikahan langgeng dan harmonis. Ada juga patung kakek tua yang dipajang dekat situ, ternyata dahulu juga ada kebiasaan membuat patung menyerupai orang  yang baru saja meninggal untuk mengenangnya. Tradisi pembuatan patung bagi orang yang meninggal ini rupanya tidak hanya di pulau Jawa. Kalau teman-teman pernah dengar tentang Tanah Toraja, disana juga ada patung-patung orang yang meninggal dipajang di bukit persemayaman.

Di dalam museum ini juga banyak dipajang patung Asmat yang berasal dari Papua. Jujur, saya lupa patung Asmat ini melambangkan apa. Hehe. Mungkin bisa cari infonya di google. Tapi yang saya ingat, setiap patung yang pernah dibuat itu unik, tidak ada duanya di dunia. Desain patung benar-benar bergantung pada kreatifitas pemahat pada saat itu dan prosesnya dilakukan spontan tanpa digambar untuk ancer-ancer dan sebagainya. Entah kenapa patung Asmat ini seperti saudaraan dengan patung-patung di Easter Island.

Kepala Keris
Anak muda sekarang sih hobinya gonta ganti casing handphone, kalau jaman dahulu di tanah Jawa hobinya gonta ganti kepala keris soalnya belum ada handphone. Haha. Kepala keris itu melambangkan strata social, semakin tinggi stratanya maka ukiran kepala keris semakin heboh malah ada yang dipasang bebatuan sebagai aksesoris. Kepala keris paling unik disini adalah yang terbuat dari gading mammoth! Walaupun mammoth sudah punah, setidaknya saya bisa lihat gadingnya yang sudah diukir. Sayangnya saya lupa fotoin. Hihihi.

Topeng
Topeng Panji dan Dewi Sekartaji (dan bayangan Pak Supaat :D)
“Museum ini dinamakan D’Topeng karena paling banyak koleksi topengnya” begitu kata bapaknya. Topeng-topeng dipajang berderetan dalam lemari kaca. Tidak ada sejarah khusu tentang seluruh koleksi topeng ini karena fungsi utamanya ya untuk dipakai dalam tari topeng. Tapi dari sekian banyak topeng yang berasal dari berbagai daerah memiliki wajah berbeda yang ternyata juga punya nama masing-masing. Pada dasarnya tari topeng menceritakan kisah cinta sejoli yang tidak direstui keluarga karena adanya dendam antar keluarga. Cerita ini berasal dari kesusastraan Jawa sejak jaman Majapahit. Sebut saja Panji dan Dewi Sekartaji, dua muda mudi beda kerajaan yang memicu perang antar kerajaan demi mempertahankan cintanya. Meskipun pada akhirnya keduanya tidak bisa bersatu. Ada juga cerita Rama Sinta dan tokoh lainnya yang walaupun berbeda tapi inti ceritanya tetap sama. Tragis, tidak bisa bersatu. Nah, coba dehingat-ingat cerita ini mirip dengan kisah Romeo dan Juliet yang ditulis William Shakespeare pada abad ke 16. Konon, menurut pemaparan Pak Supaat, Shakespeare terinspirasi dari keusastraan Jawa yang dibawa bangsa Portugis dari Indonesia. Kesusastraan Jawa ini sudah ada jauh sebelum abad ke-16.

Bertemu Pak Supaat di dalam museum membuat kami merasa seperti dibacakan cerita dongeng. Sampai tidak sadar kalau dua pasang depan kami sudah menghilang karena Pak Supaat lebih banyak cerita sama kami yang juga banyak tanya. Hehe. Saat sampai di pintu keluar, Emil bangun dan mulai rewel. Walaupun masih ada beberapa koleksi kain unik, seperti batik dari emas yang dijelaskan dengan terburu-buru karena Emil nangis. Tapi saya dan Beni merasa puas di museum ini, feels like being fed with knowledge. Wawasan dan jiwa kami serasa diisi dan membuat kami tambah cinta Indonesia. Suatu hari nanti kalau Emil sudah mengerti, akan kami sampaikan cerita-cerita seperti yang dilakukan Pak Supaat pada kami.


Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai warisan budaya masa lalu. –Museum D’Topeng

0 Response to "D'Topeng Kingdom (Museum Angkut, Kota Batu)"

Posting Komentar

Postingan Populer